Ciri Ciri Down Syndrome, Kenali Sejak Dini!
Banyak orang tua khawatir terhadap prevalensi sindrom down, sebab bisa saja terjadi ke anaknya. Ciri ciri down syndrome sesungguhnya cukup mudah dikenali, sehingga bisa melakukan deteksi dari masa-masa awal. Terdapat berbagai karakteristik yang bisa diketahui dari sindrom tersebut.
Mengenal Sindrom Down

Sebelum membahas lebih lanjut seputar ciri-cirinya, penting untuk memahami terlebih dahulu apa definisinya, yakni sebuah kondisi yang bersifat genetik. Dimana, anak mengalami pertambahan kromosom di tubuhnya. Kromosom ini berupa gen kecil tambahan.
Umumnya disertai terlambatnya perkembangan, pertumbuhan, serta hambatan dalam belajar, kemudian ciri tertentu pada fisiknya. Penyebabnya yakni kelebihan kromosom ke-21 pada beberapa atau keseluruhan sel tubuh. Sejatinya manusia dianugerahi 23 pasang saja, bentuknya mirip benang dengan materi genetik.
Tugas kromosom yaitu mengelola fungsi hingga bentuk tubuh seseorang. Semestinya hanya terdapat dua kromosom ke-21. Kendati demikian, beberapa anak mendapatkan hingga tiga. Akibat ekstra kromosom tersebut, berdampak terhadap berubahnya fitur fisik hingga gangguan perkembangan.
Berdasarkan data dari WHO, kondisi ini dialami satu dari seribu kelahiran. Meski begitu, masih belum dapat ditemukan, apa pastinya yang menyebabkan kemunculan tambahan kromosom ini. Contoh faktor risikonya adalah usia ibunya yang sudah cukup tua.
Ciri Ciri Down Syndrome
Terdapat beberapa karakteristik khusus baik secara fisik maupun kognitif yang dialami oleh anak-anak. Orangtua bisa melihat beberapa pola khas, sehingga orangtua bisa segera memeriksakan permasalahan yang dialami anak.
Dengan mengetahui gejalanya sejak dini, dapat meminimalisir terjadinya gangguan kesehatan. Sebab, ada beberapa risiko yaitu hipotiroidisme, masalah jantung, serta kesulitan beraktivitas. Berikut adalah berbagai gejala yang paling umum terjadi:
1. Kepala Kecil Disertai Ujung Melancip Pada Mata
Microcephaly merupakan kondisi ketika kepala anak berukuran lebih kecil daripada ukuran normalnya. Hal ini disebabkan perkembangan otak yang terganggu saat berada di kandungan, ataupun terhenti sejak lahir. Dokter, nantinya bisa melakukan pengukuran lingkar kepala agar lebih objektif.
Kemudian, ujung mata bayi lancip menuju arah atas, bukannya lurus seperti orang-orang kebanyakan. Warna matanya pun tidak serupa dengan orangtuanya, serta terdapat bintik-bintik berwarna putih yang nampak di pupilnya. Bintik tersebut dialami mulai 35-78% penderita.
2. Telinga Letaknya Lebih Rendah
Ciri ciri down syndrome selanjutnya yaitu rendahnya letak telinga. Apabila diperhatikan dari arah depan, telinganya sejajar garis mata. Padahal kondisi yang umum adalah puncak telinga yang berada sejajar garis mata.
Dari segi bentuk, kebanyakan penderita telinganya berbentuk lain. Bentuknya bervariasi, namun lain dari mayoritas anak. Sebanyak 40-50% mengalami kondisi liang telinga sempit. Kondisi yang cukup beresiko, karena kotoran telinga agak sulit untuk dibersihkan ataupun diperiksa.
3. Leher Pendek dan Wajah yang Agak Datar
Kebanyakan penderita sindrom ini lehernya pendek daripada mayoritas anak. Ciri ciri down syndrome ini, jika diperhatikan lebih lanjut akan terlihat bahwa ada kelebihan lemak. Oleh sebab itulah, lehernya terlihat besar dan agak menggelambir.
Lidah bayi pun sangat besar, kondisi ini disebut makroglosia. Sementara itu ukuran mulutnya relatif kecil, sehingga nampak kurang proporsional. Wajah seringkali datar, terutama bila diperhatikan dari sisi sampingnya.
Umumnya garis hidung atas nampak datar, dinamakan flat nasal. Karakter yang kerap kali dialami anak yang memiliki sindrom ini. Meski begitu, juga bisa dibandingkan dengan orangtua. Bisa dilihat apakah ada bawaan genetik, jadi tidak selalu karakteristik sindrom down.
4. Keterlambatan di Perkembangan Aspek Motorik
Perkembangan motorik setiap anak berbeda, namun untuk yang memiliki sindrom akan cukup mengganggu aktivitas anak. Misalnya aktivitas sederhana seperti berguling, melakukan pergerakan, duduk, merangkak, hingga koordinasi kaki untuk berjalan.
5. Terhambatnya Perkembangan Pada Kemampuan Bicara, Bahasa, Serta Angka
Ciri ciri down syndrome pada aspek kognitif berkaitan dengan perkembangan bicara. Keterampilan komunikasinya bisa terhambat. Sebab, memerlukan lebih banyak waktu dalam mengembangkan kemampuan berbicara sekaligus pemahaman bahasanya.
Sebagian besarnya juga mengalami kesulitan dalam memahami konsep angka. Ini karena memori jangka pendeknya terbatas. Memori ini berhubungan dengan pembelajaran sebuah informasi dalam waktu singkat. Biasanya berfungsi mendukung proses pembelajaran dan perkembangan aspek kognitif terkait informasi verbal maupun visual.
Hebatnya, anak-anak ini memiliki kemampuan lebih baik untuk menangkap informasi visual daripada verbal. Walaupun waktunya berbeda dari rata-rata anak seusianya, perkembangan berbagai kemampuan tersebut tetap dapat dicapai anak.
6. Tubuh yang Cukup Lemah
Seringkali, bayi dengan sindrom down sangat pasif, dalam artian jarang bergerak. Ini dikarenakan banyak penderitanya mengalami hipotiroid, sehingga bagian ototnya relatif lemah daripada mayoritas anak.
Ketika digendong, seringkali bayi justru menangis. Berbeda dari kebanyakan bayi yang ketika digendong justru membantunya untuk menghentikan tangisan. Jadi bila gejalanya sering terjadi, orangtua dapat segera memeriksakan anak.
7. Rentang Perhatian Terbilang Singkat
Dari segi kemampuan untuk berfokus terhadap sesuatu, rentang perhatiannya cenderung singkat. Kendati demikian, masih dalam taraf yang ringan sampai sedang. Jarang mengalami berat di aspek kognitif, sehingga dapat lebih berkembang seiring berjalannya waktu dengan stimulus yang tepat.
Terkadang anak berperilaku impulsif, sebab dirinya mengalami kendali yang rendah dan kesulitan untuk mengungkapkan isi hatinya. Meski begitu, anak dapat diajarkan cara tertentu yang lebih sehat untuk mengemukakan perasaan maupun pikirannya. Disertai arahan tepat, anak semakin bisa beradaptasi.
Demikian informasi ciri ciri down syndrome, sehingga dapat melakukan deteksi sejak awal. Dengan begitu, anak akan mendapatkan fasilitas dan penanganan yang diperlukannya untuk berkembang dengan adaptif.
Janganlah berkecil hati, sebab anak tetap bisa berkembang dengan baik sesuai dengan ritmenya masing-masing. Apabila orangtua memberikan perlakuan yang nyaman dan penuh dukungan, anak bisa mengembangkan potensinya di berbagai hal.